You are currently viewing Kamu Yakin Jadi Guru SD?

Kamu Yakin Jadi Guru SD?

“Everybody says teaching is so easy, just walking in a park. But only teachers know that the park is Jurassic Park, with a variety of dinosaurs.”

Saya tersenyum ketika pertama kali membaca kutipan itu di media sosial. Ada benarnya juga. Bagi sebagian orang, menjadi guru terlihat seperti pekerjaan yang sederhana. Datang ke sekolah pagi hari, mengajar beberapa jam kemudian pulang. Ketika murid libur, guru pun ikut libur. Hari liburnya banyak, bahkan saat jam istirahat, guru dianggap bisa duduk santai di ruang guru sambil menikmati secangkir kopi. Mungkin begitulah pekerjaan guru terlihat dari luar. Namun, ada dunia lain yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah berdiri di depan kelas. Dunia yang riuh, penuh kejutan, penuh pertanyaan, penuh energi, sekaligus penuh cerita. Terutama jika yang dihadapi adalah anak-anak sekolah dasar. Maka, ketika seseorang bertanya, “kamu yakin mau jadi guru SD?” Saya rasa pertanyaan itu tidak sesederhana yang terdengar. Sebab menjadi guru bukan sekadar memilih sebuah pekerjaan. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan, bahkan sebelum kaki melangkah masuk ke kelas.

Guru dan rencana yang tidak pernah sederhana

Idealnya, seorang guru tentu datang ke kelas dengan rencana. Ada tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Ada materi yang harus disampaikan, ada strategi yang harus dipilih, ada media yang perlu dipersiapkan. Ada aktivitas yang dirancang agar anak-anak tidak hanya mendengar, tetapi juga mengalami dan memahami. Guru mungkin sudah mencari gambar yang menarik, membuat permainan, menyiapkan video, menyusun lembar kerja, bahkan berlatih bagaimana menjelaskan materi dengan bahasa yang sederhana. Semuanya dipikirkan. Karena guru tahu, anak-anak tidak datang ke kelas dengan kepala yang kosong. Mereka datang dengan rasa ingin tahu, pengalaman, karakter, dan kebutuhan belajar yang berbeda-beda. Maka seorang guru tidak cukup hanya memiliki rencana A. Harus ada rencana B, kalau perlu C, D, bahkan sampai Z. Misalnya guru sudah menyiapkan pembelajaran menggunakan video. Tiba-tiba listrik mati, atau guru sudah menyiapkan permainan berkelompok. Ternyata suasana kelas hari itu sedang tidak kondusif. Bahkan ketika guru sudah menyiapkan kegiatan di luar kelas, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Lalu apakah pembelajaran berhenti? Tidak. Guru harus belajar untuk beradaptasi. Menonton video dapat berubah menjadi bercerita. Permainan dapat berubah menjadi diskusi dan kegiatan di luar kelas dapat berpindah ke dalam kelas. Di sinilah guru sering kali menjadi seperti seorang pemain improvisasi. Rencana boleh matang, tetapi kenyataan di kelas selalu memiliki cara sendiri untuk memberi kejutan. Dan mungkin benar, kelas guru itu bukan sekadar walking in a park. Kadang-kadang memang terasa seperti Jurassic Park.

Baterai anak dan baterai guru

Guru yang mengajar di kelas rendah terutama kelas 1 sampai 3, energi anak-anak seolah tidak memiliki batas. Jika diibaratkan baterai, baterai mereka masih baru alias original dan kapasitasnya penuh. Selesai satu kegiatan, mereka siap melakukan kegiatan berikutnya. Selesai bernyanyi, ingin bermain. Selesai bermain, ingin bertanya. Selesai bertanya, ada yang ingin bercerita. Sementara baterai guru perlahan berkurang. Pagi hari mungkin masih 100 persen. Menjelang siang mulai 60 persen. Setelah menghadapi berbagai pertanyaan, suara riuh, anak yang bertengkar karena berebut pensil, anak yang tiba-tiba menangis, anak yang berjalan-jalan di kelas, dan anak yang entah mengapa merasa meja adalah tempat yang tepat untuk berdiri, baterai guru mungkin tinggal 10 persen. Namun, lucunya, ketika seorang anak mendekat dan berkata, “Bu, saya belum paham. Bisa dijelaskan lagi?” guru kembali mengisi baterainya. Ketika seorang anak yang sebelumnya kesulitan membaca akhirnya berhasil membaca satu kalimat dengan lancar, baterai itu terisi lagi. Ketika seorang anak yang biasanya malu akhirnya berani maju ke depan kelas, energi guru terisi lagi. Barangkali begitulah cara guru bertahan. Bukan karena guru tidak pernah lelah, tetapi karena ada banyak hal kecil yang membuat rasa lelah itu menjadi layak.

Mengelola kelas, mengelola manusia

Dalam mengajar, salah satu tantangan terbesar bukan hanya menyampaikan materi, tetapi mengelola kelas. Sebab kelas bukan kumpulan anak yang seragam, setiap anak memiliki karakter yang berbeda. Ada yang mudah fokus, ada yang membutuhkan waktu lebih lama, ada yang senang melihat gambar, ada yang lebih mudah memahami melalui cerita dan ada juga yang baru mengerti ketika ia bergerak dan mencoba sendiri. Ada anak yang bisa duduk tenang selama guru menjelaskan, ada pula anak yang tubuhnya seolah memiliki mesin penggerak sendiri. Jika pembelajaran dilakukan dengan cara yang sama setiap hari, tentu tidak semua anak akan merasa terlibat. Ketika pembelajaran terasa membosankan dan perlahan-lahan kelas mulai berubah. Ada yang mengobrol, ada yang memainkan pensil, ada yang mengganggu teman, ada yang berjalan-jalan,ada yang menguap. Bahkan mungkin ada yang tiba-tiba berkata, “Bu, saya mau pipis.” Padahal lima menit sebelumnya sudah ke toilet, guru mengingatkan agar kelas menjadi tenang. Beberapa menit kemudian ramai lagi, guru mengingatkan kembali. Ramai lagi. Pada titik tertentu, guru mungkin tergoda untuk meninggikan suara. Namun setelah itu muncul pertanyaan yang lebih penting: apakah anak benar-benar membutuhkan guru yang lebih keras, atau mereka membutuhkan pembelajaran yang lebih bermakna? Pertanyaan ini tidak selalu mudah dijawab. Sebab mengajar anak-anak bukan hanya soal bagaimana membuat mereka diam. Lebih dari itu, guru perlu membuat mereka terlibat. Anak yang bergerak bukan selalu berarti anak yang tidak mau belajar. Anak yang banyak bertanya bukan selalu berarti anak yang mengganggu. Anak yang sulit duduk diam bukan selalu berarti anak yang tidak disiplin. Bisa jadi mereka sedang mencari cara belajar yang paling sesuai dengan dirinya. Maka tugas guru bukan sekadar membuat kelas tenang. Tugas guru adalah menciptakan ruang belajar yang membuat anak merasa aman untuk bertanya, mencoba, salah, memperbaiki kesalahan, dan mencoba lagi.

Guru tidak hanya mengajar pelajaran

Pada akhirnya, saya semakin memahami bahwa guru SD sebenarnya tidak hanya mengajarkan matematika, bahasa, sains, atau pengetahuan lainnya. Guru juga sedang mengajarkan bagaimana cara meminta maaf. Bagaimana cara berbagi, bagaimana cara menunggu giliran, bagaimana cara menghargai teman, bagaimana cara menerima kekalahan, serta bagaimana cara mengatakan, “saya belum bisa.” Dan yang tidak kalah penting, bagaimana cara mencoba lagi setelah gagal. Kadang-kadang, materi yang tertulis di buku pelajaran selesai dalam satu jam. Tetapi pelajaran tentang kehidupan bisa membutuhkan bertahun-tahun untuk benar-benar dipahami. Karena itu, guru tidak hanya bekerja dengan kurikulum. Guru bekerja dengan manusia. Manusia-manusia kecil yang sedang tumbuh dan mencari tahu siapa dirinya. Dan setiap anak datang membawa cerita yang berbeda. Ada anak yang pagi itu datang ke sekolah dengan gembira. Ada yang mungkin sedang bersedih, ada yang baru saja dimarahi di rumah, ada yang ingin sekali diperhatikan, ada yang sebenarnya memahami pelajaran, tetapi tidak percaya diri untuk menjawab. Ada pula yang tampak paling aktif di kelas, padahal mungkin hanya sedang mencari perhatian. Guru mungkin tidak selalu mengetahui seluruh cerita mereka. Tetapi setidaknya sekolah seharusnya menjadi tempat di mana anak merasa diterima. Di sinilah sisi kemanusiaan seorang guru menjadi penting.

Lalu, mengapa masih mau menjadi guru?

Jika menjadi guru memang melelahkan, mengapa masih banyak orang yang memilih profesi ini? Mungkin karena kebahagiaan seorang guru tidak selalu datang dalam bentuk yang besar. Kadang hanya berupa senyum seorang anak, kadang berupa gambar sederhana yang diberikan sambil berkata, “ini buat ibu.” kadang berupa tulisan tangan yang belum rapi, yang isinya “Bu, terima kasih sudah mengajar kami”. Atau “Bu, besok kita belajar apa?” kalimat sederhana itu bisa menjadi pengingat bahwa bagi seorang anak, kehadiran guru ternyata berarti. Ada satu fase dalam perjalanan seorang guru ketika ia menyadari bahwa ia tidak akan selalu melihat hasil dari apa yang ia ajarkan. Guru mungkin mengajarkan kejujuran hari ini, tetapi baru melihat buahnya bertahun-tahun kemudian. Guru mengajarkan keberanian hari ini, tetapi mungkin baru mengetahui dampaknya ketika anak itu dewasa. Guru mengajarkan untuk tidak mudah menyerah, tetapi tidak pernah tahu kapan nasihat itu benar-benar digunakan dalam kehidupan muridnya. Guru menanam, merawat, menyiram tetapi tidak selalu guru yang menikmati buahnya. Dan mungkin justru di situlah kemuliaan profesi ini.

Jadi, kamu yakin jadi guru sd?

Maka jika suatu hari seseorang kembali bertanya, “Kamu yakin jadi guru SD?” Saya mungkin akan tersenyum. Karena saya tahu, menjadi guru SD bukan pekerjaan yang mudah. Ada hari-hari ketika suara habis. Ada hari-hari ketika rencana pembelajaran berantakan. Ada hari-hari ketika pulang sekolah rasanya ingin langsung tidur. Ada hari-hari ketika kita bertanya kepada diri sendiri, “Apa benar saya cocok menjadi guru?” Tetapi kemudian keesokan harinya kita kembali datang. Membuka pintu kelas. Menyapa anak-anak. Dan memulai semuanya lagi. Bukan karena kita tidak lelah. Tetapi karena kita percaya bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar menyelesaikan jam mengajar. Ada anak-anak yang sedang tumbuh. Ada karakter yang sedang dibentuk. Ada rasa ingin tahu yang sedang dijaga. Ada mimpi-mimpi kecil yang sedang disemai. Dan mungkin, salah satu dari mereka kelak akan menjadi dokter, insinyur, pengusaha, seniman, pemimpin, atau apa pun yang mereka impikan. Ketika hari itu tiba, mungkin mereka tidak lagi mengingat semua materi yang pernah kita ajarkan. Mungkin mereka lupa soal-soal yang pernah dikerjakan. Mungkin mereka lupa permainan yang pernah dimainkan di kelas. Tetapi semoga mereka mengingat satu hal: pernah ada seorang guru yang percaya kepada mereka. Beberapa waktu lalu saya diundang dalam program Wardah Inspiring Teacher dalam acara Inspiring Educators 2026 yang diadakan oleh Paragoncorp, Di sana saya melihat bagaimana perjuangan Bu Dika seorang guru di Kepulauan Mentawai, Sumbar, beliau bercerita bagaimana caranya supaya murid-murid tetap berangkat ke sekolah di tengah kondisi akses ke sekolah sangat jauh dan medan yang berat, kemudian saya juga menyaksikan perjuangan seorang dosen ITB bernama Pak Imam, beliau satu-satunya orang yang percaya bahwa mahasiswanya yang hampir di-DO, akhirnya berhasil lulus dan menjadi ahli di bidangnya. Dan yang membuat saya jadi merinding adalah bagaimana mereka membangun kepercayaan diri murid-murid mereka agar bisa tetap bersekolah.

Jadi, apakah saya yakin menjadi guru SD? Ya. Bukan karena profesi ini mudah, bukan karena banyak libur, bukan pula karena pulang lebih cepat. Tetapi karena di balik segala riuhnya kelas, ada kesempatan untuk ikut mengambil bagian dalam perjalanan tumbuhnya seorang manusia. Jadi, kalau mengajar adalah berjalan di sebuah taman, saya setuju taman itu memang Jurassic Park. Dinosaurusnya banyak. Suara mereka kadang membuat kepala pening. Energinya luar biasa. Tetapi di taman itulah setiap hari guru belajar satu hal bahwa mendampingi anak tumbuh adalah pekerjaan yang melelahkan sekaligus indah. Mereka sedang menuju masa depannya masing-masing. Hari ini mungkin kita hanya melihat seorang anak yang kembali ke sekolah, tapi siapa yang tahu akan menjadi apa mereka kelak? Dan mungkin, itulah alasan mengapa meski baterai guru sering low battery, kita tetap datang lagi esok pagi. Untuk mengisi baterai mereka, sekaligus diam-diam mengisi baterai kita sendiri. Terima kasih, Bapak dan Ibu pendidik, karena terus memilih untuk tidak menyerah.

Penulis : Gusti Rahayu, S.Si.Gr.
Guru kelas 3 SD Silaturahim Islamic School