“Bu, Kenapa sih di dunia ini ada matematika?” ujar seorang muridku waktu itu. Kemudian ditimpali temannya, “Matematika itu bikin mati akal”, bahkan ada juga yang menimpali “ Bu, ada nggak pekerjaan yang tidak pakai matematika, bikin pusing tau Bu”. Setiap pelajaran matematika, murid-murid selalu mengeluh sulit. Apalagi saat mengerjakan soal hitungan dan soal cerita, mereka tampak makin kebingungan dalam memahami maksud soal dan menyelesaikan soal tersebut. Sebagai seorang guru saya tergelitik dengan pertanyaan dan tanggapan murid seperti itu. Pertanyaan tersebut membuat saya berpikir, bagaimana caranya supaya murid menyukai pelajaran matematika sebelum paham arti matematika itu sendiri.
Ketika mengajar operasi hitung materi bilangan cacah, murid-murid mulai mengerjakan soal latihan sesuai materi yang telah diajarkan. Ternyata saat mengerjakan soal latihan, murid-murid tampak kebingungan memahami maksud soal. Penyelesaian hitungan menjadi lebih rumit karena adanya operasi hitung perkalian. Kelas menjadi ramai karena banyaknya murid yang belum hafal perkalian, bahkan belum paham konsep perkalian itu sendiri. “Bu ini gimana caranya”, “Bu aku belum tau perkalian delapan, soalnya susah banget Bu,”. Awalnya saya beranggapan masa sudah kelas 3 belum tahu perkalian, saya aja dulu sekolah kelas 3 sudah hafal semua, begitulah yang ada di pikiran saya waktu itu dan saya beranggapan mungkin mereka saja yang belum hafal. Materi saya lanjutkan tanpa memikirkan solusi dari kesulitan tersebut. Ternyata setelah saya lanjutkan materi, hal tersebut semakin parah, murid-murid menjadi semakin sulit mengerjakan soal, apalagi materi operasi hitung campuran dan angka yang lumayan besar. Akhirnya banyak murid yang mengerjakan asal-asalan, yang penting cepat selesai, bahkan bermain-main saat pelajaran matematika berlangsung dengan alasan matematika sulit.
Berbekal pengetahuan dan pengalaman dalam manajemen kelas khususnya materi Multiple Intelligences atau kecerdasan majemuk, Saya akhirnya memiliki gagasan untuk memperdalam pengetahuan tersebut. Bagaimana cara menyesuaikan gaya belajar murid dengan metode atau strategi guru dalam mengajar. Sekolah kami berbasis Kurikulum Manusia yang digagas oleh Praktisi Pendidikan (Alm) Munif Chatib. Dalam bukunya tersebut, setiap orang memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Setiap anak itu bintang. Tugas guru adalah bagaimana menemukan potensi pada mereka dan memantiknya menjadi hal yang dicita-citakan. Sekolah kami juga menggunakan alat ukur yang dinamakan Multiple Intelligences Research (MIR) yang telah diakui, Tujuannya untuk observasi awal mengetahui gaya belajar murid. Kecerdasan dalam MI ada 8 jenis, yaitu cerdas spasial visual, cerdas logis matematis, cerdas kinestetik, cerdas linguistik, cerdas musikal, cerdas naturalis, cerdas interpersonal, cerdas intrapersonal. Berbekal itulah akhirnya saya tercetus ide bagaimana mengajarkan konsep perkalian menjadi menyenangkan sesuai kecerdasan yang dimiliki masing-masing murid. Ide tersebut muncul menjadi Proyek “Album perkalian”. Dari belajar menghafal menjadi memahami.
Saya kemudian merancang proyek tersebut berbekal hasil MIR murid di kelas saya. Proyek ini dimulai dengan mengumpulkan data MIR setiap murid. Kemudian saya membagi menjadi 5 kelompok besar. Ada kelompok penulis lirik dengan kecerdasan linguistik, ada kelompok aransemen musik dengan kecerdasan musikal, kelompok koreografer dengan kecerdasan kinestetik, kelompok desain grafis buku lagu dengan kecerdasan spasial visual dan ahli data dengan kecerdasan logis matematis. Pada saat proyek dimulai, saya memantik pendapat mereka dengan pertanyaan, “Menurut kalian, perkalian berapa yang sulit dihafalkan”, kemudian saya juga melakukan asesmen kepada seluruh murid di kelas berupa latihan soal perkalian. Ternyata hampir 50% siswa belum hafal perkalian bahkan belum tahu konsep perkalian itu sendiri. Saya mengajak siswa untuk membayangkan bagaimana jika perkalian dikerjakan sesuai kesukaan masing-masing. Semua murid kompak teriak yeee karena hal itu sangat menyenangkan.
Pertemuan berikutnya Saya membagi murid menjadi 5 divisi, proyeknya kami namakan dengan “Album Perkalian”. Sebuah profesional di industri rekaman, di mana salah satu perkalian yang kami anggap sulit dihafalkan, dibuat menjadi sebuah lagu yang dituliskan dalam sebuah buku dan didesain dengan gambar yang mewakilkan perkalian itu sendiri. Dan harapannya proyek kami dijadikan sebuah buku lagu dan video yang dapat bermanfaat bagi murid lain dan masyarakat nantinya.
Masing-masing divisi melakukan tugas dengan baik. Divisi spasial visual mengubah perkalian menjadi gambar, contohnya 4×8. Divisi spasial membuat gambar 4 sarang dengan masing-masing 8 burung dalam setiap sarang. Ada juga yang membuat gambar perkalian 6×8 dengan gambar 8 kue dalam piring yang berjumlah 6. Divisi penulis lirik bekerja sama dengan divisi arransemen menentukan lagu dan lirik yang sesuai perkalian delapan. Mereka memilih lagu “Becak” dengan menyesuaikan liriknya. Setelah berdiskusi akhirnya muncul lagu perkalian dengan nada becak. Liriknya seperti ini,
Ayo kita belajar perkalian 8
Bersama teman-teman mari kita praktikkan
Satu kali delapan sama dengan delapan
Dua kali delapan itu enam belas
Tiga kali delapan itu dua puluh empat
Empat kali delapan itu tiga puluh dua
Lima kali delapan sama dengan empat puluh
Enam kali delapan itu empat delapan
Tujuh kali delapan itu lima puluh enam
Delapan kali delapan itu enam puluh empat
Sembilan kali delapan itu tujuh puluh dua
Sepuluh kali delapan delapan puluh
Kita bisa hafalkan perkalian
Sedangkan divisi koreografer merancang gerakan tangan, kaki bahkan badan sesuai dengan perkalian. Nah setelah masing-masing divisi menyelesaikan proyeknya, divisi ahli data memeriksa apakah hasil perkalian masing-masing divisi sudah benar dan sesuai. Setelah proyek kami selesai, masing-masing divisi mempresentasikan hasil diskusinya dan mengumpulkan draf album perkalian.
Proyek ini memang belum selesai, dikarenakan waktu untuk menyusun draf dan menjadikan buku serta pembuatan video belum sempat dilaksanakan, dikarenakan waktu yang sedikit. Tetapi ada suatu special moment yang teringat jelas bagi saya. Ada seorang siswa yang memang agak sulit dalam pelajaran matematika, dia termasuk dalam divisi spasial visual. Kesukaannya menggambar dan membuat crafting. Ketika dia mengerjakan perkalian dengan gambar, tiba-tiba dia nyeletuk. “Bu, lebih gampang pakai gambar ya bu perkaliannya. Aku jadi tau kalau 2×8 itu ada 2 wadah dan 8 adalah isi wadah”. Hati saya menjadi terenyuh, ketika pelajaran yang dianggap sulit, apabila sesuai dengan gaya belajar murid, menjadi lebih mudah diselesaikan.
Momen yang paling menyentuh bagi saya adalah ketika seorang murid yang biasanya pasif mulai menyampaikan ide untuk kelompoknya. Pelajaran matematika yang dianggap sulit menjadi mudah apabila konsepnya mudah dipahami. Di sinilah saya melihat bahwa pembelajaran tidak hanya mengubah cara siswa memahami matematika, tetapi mengubah cara mereka bekerja sama dan menghargai potensi masing-masing.
Nama Lengkap: Gusti Rahayu, S.Si.Gr
Asal Instansi: SD Silaturahim Islamic School
Jenjang: SD Kelas 3
Kelompok: 18